Just ask about humanities, social-cultural issues, blogging, web interface design. No junk, no spam. Personal, eh?

RSS Feed
    1. Rudy Gunawan

      Font favorit saya sebagian merupakan web-safe font. Artinya font pada website yang dapat terbaca dengan baik hampir pada semua browser dan OS.

      Dari jajaran keluarga sans-serif, saya paling sering menggunakan Arial dan Verdana. Paling sering adalah Arial. Akhir-akhir ini saya suka dengan Calibri, dan menggunakannya pada desain blog saya (gunawanrudy.com). Sayangnya Calibri bukan web-safe font.

      Untuk font serif sendiri, pilihan saya nggak banyak. Saya paling hanya menggemari Georgia.

    2. Rudy Gunawan

      Dalam humanisme religi, jelas posisi tuhan bersinergi dengan nilai-nilai religi yang diangkat beserta sisi-sisi kemanusiaan dalam upaya mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang terkait dengan manusia.

      Ketika berbicara humanisme sekuler, yang menapikkan peran agama, di manakah posisi tuhan? Bagi mereka yang menganggap tuhan = agama, maka sangat tidak jelas di mana tuhan berada.

      Maaf, pengetahuan saya akan hal ini masih sangat sangat terbatas. :(

      Mungkin ada yang mau mencerahkan?

    3. Rudy Gunawan

      Sependek yang saya tahu, dari kesemua "Hindu" yang ada di Indonesia, hanya Hindu Dharma saja yang benar-benar berpatokan pada Trimurti [dari India]. Sedangkan [yang dijadikan] Hindu lainnya macam Kaharingan dan Sidrap tidak. Yang lainnya itu hanyalah agama-agama lokal yang di-Hindu-kan. CMIIW.

      Ketika masuk ke Indonesia, jelas mendapat pengaruh dari budaya yang ada. Konsep monoteisme Hindu Dharma, dengan Sang Hyang Widhi sebagai yang tertinggi dan satu-satunya adalah konsep khas Nusantara (atau Bali khususnya).

      Konsep ini lantas mempengaruhi Trimurti. Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah perwujudan nama-nama kebesaran Sang Hyang Widhi.

      Mohon dikoreksi jika ada yang keliru pada pemahaman saya.

    4. Rudy Gunawan

      Ketika orang berbicara "mati" dalam konteks ini, tentu yang dimaksudkan adalah semakin berkurangnya pengguna hingga mencapai titik sepi, bukan punah sepenuhnya.

      Forum internet, blog atau jejaring sosial, sebagai sebuah temuan atau produk teknologi, tentu akan tunduk pada hukum besi teknologi bahwa akan ada temuan baru yang lebih mampu menyesuaikan kebutuhan (atau rasa tidak puas) khalayak, dan tidak ada sesuatu yang "selamanya" dapat mendominasi. Itu yang kita peroleh jika melihat dari paradigma forum, blog, atau jejaring sosial sebagai produk teknologi atau blog sebagai sebuah medium.

      Lantas, sebagai medium apakah mereka? Seperti para pendahulunya dari zaman purba, seperti daun lontar, surat kabar, majalah, radio, televisi, milis, dsb, mereka adalah medium "berbagi informasi". Perbedaannya tentu adalah bentuk medium itu, namun tujuan atau fungsi utamanya tetap sama: berbagi informasi.

      Jika terfokus pada ranah dunia maya, era-era "berbagi informasi" tersebut dapat dirunut mulai dari era chatting, mailing list, discussion board (forum), blog, hingga social networking. Dikaitkan dengan hukum besi teknologi, ketika pada era chatting orang ingin agar alur diskusi dapat terakomodir dan dapat kekal (tidak temporer), maka lahirlah mailing list yang menjadi wadah diskusi dan berbagi informasi tanpa harus selalu ada di depan layar komputer. Ketika pengunanya menyadari keterbatasan mailing list yang tidak tertata atau terkategorisasi rapi alur diskusi dan informasinya serta kesulitan dalam mencari arsip-arsip yang berserakan, maka terciptalah discussion board (forum) yang mampu mengakomodir arsip-arsip dan kategorisasi informasi tersebut dalam wadah yang jelas dan mudah diakses. Lalu lantas khalayak ingin mempunyai wadah sendiri dalam berbagi informasi, ingin memiliki media sendiri untuk menulis tanpa bayang-bayang guting editor, maka blog pun menjamur. Selanjutnya saat orang menyadari bahwa pentingnya kemudahan jaringan dan sosialisasi antar tiap orang, juga kemampuan berbagi yang sangat mudah dan cepat diproduksi ataupun diakses, lahan untuk berbagi informasi tersebut kemudian pindah ke social networking. Begitu selanjutnya, dan mari kita lihat produk apa lagi yang akan tercipta nantinya.

      Maka pada konteks berbagi informasi itulah produk teknologi seperti forum internet, blog, dan jejaring sosial tidak akan pernah mati.

    5. Rudy Gunawan

      Jika berbicara kemungkinan, tentu ada. Itu kalau kita nggak membahas besar atau kecilnya kemungkinan itu.

      Saat ini kurasa formspring ini booming-nya agak mirip dengan plurk. Jadi belum begitu mendunia (meskipun friendster juga hanya sangat populer di Asia Tenggara dan Asia Selatan). Harapannya tentu saja, untuk dapat menggantikan singkatas FS itu harus terlebih dahulu lebih populer di semua kalangan ketimbang friendster. Kita tahu, bahwa beberapa tahun yang lalu hampir sebagian orang (bahkan yang tidak berkecimpung di dunia maya) pun tahu apa itu friendster. Maka formspring jelas harus melebihi itu untuk dapat merebut legitimasi singkatan FS.

      Tapi paling tidak, untuk di kalangan tertentu, seperti dunia maya, kemungkinan itu lebih besar ketimbang dalam ranah semua aspek. Meskipun ya, lesgitimasinya nggak sangat populer dan hanya digunakan di kalangan tertentu saja.

    6. Rudy Gunawan

      Rasanya sudah sering dibahas ya. Tapi menurut saya perlakukan sebaik-baiknya, tamu adalah tamu. Berargumen dengan baik dan terarah. Jika dirasa makin kacau dan nyeleneh, ya biarkan saja. Serahkan pada pembaca yang menilai. Toh menanggapi lagi tidak akan menyelesaikan masalah apalagi memberi pencerahan.

    7. Rudy Gunawan

      Langkah pertama Indonesia? Memberantas korupsi, menciptakan penegakan hukum yang sehat, mencari pemimpin negara yang berkualitas. Halah!

      Ya aku nggak akan ngomong yang muluk-muluk seperti itu lah. Dari sisi kebudayaan, pertama kali yang kulihat adalah Indonesia harus mampu berubah dari negara yang multikultur menjadi negara yang plural. Sangat sulit mengakomodir perbedaan yang ada di Indonesia ini (meskipun China juga adalah negara yang majemuk, namun akar kebudayaannya hampir sama). Menurutku Indonesia nggak bisa lantas main paksa untuk menyeragamkan semua perbedan (melirik penyeragaman ala Orde Baru).

      Apa yang kumaksud dengan perubahan dari Indonesia yang multikultur menjadi Indonesia yang plural adalah terkait dengan definisi kedua istilah tersebut. Pada negara yang multikultur, kesemua kelompok kebudayaan yang ada dapat hidup berdampingan tanpa ada konflik yang berarti. Sedangkan pada negara yang plural, kesemua kelompok kebudayaan itu tidak hanya dapat hidup bersampingan, namun juga antara kelompok satu dengan kelompok yang lain mau dan mampu memahami atau mempelajari kebudayaan antar kelompok yang berbeda tersebut. Tiap kebudayaan tentu punya etnosains (atau bahasa populernya: kearifan lokal) dan dengan saling memahami antar kebudayaan dalam satu atap bernama Indonesia ini, pengetahuan akan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda tersebut bisa menjadi modal untuk langkah-langkah selanjutnya. Inilah langkah pertama (atau langkah awal) yang diambil sebelum dapat melangkah mulus ke langkah-langkah berikutnya

      Dan oh ya, kebudayaan di sini tentu didefinisikan sebagai kebudayaan dengan arti luas. Bukan dalam arti sempit yang kadang diasumsikan semacam kesenian, atau hal-hal yang berbau etnis/tribal. :D

      Semoga tidak mengecewakan.

    8. Rudy Gunawan

      Mengambil suduh pandang relativis kebudayaan, sebagian besar anggapan negatif tentang suatu etnis/sukubangsa biasanya dikarenakan oleh minimnya pengetahuan mengenai sukubangsa tersebut.

      Lebih jauh lagi, pengetahuan populer tentang sukubangsa Dayak yang biasanya jadi pembicaraan dari mulut ke mulut di luar Kalimantan (khususnya Jawa) selalu berkaitan dengan mistis dan kekerasaan. Kebudayaan yang dikenal orang Jawa mungkin menyoal kayau/mangayau (memenggal kepala musuh sebagai perlambang keberanian), atau asang-maasang (peperangan besar). Atau bisa pula kegiatan klenik atau perdukunan yang kadang dibumbui terus dengan berbagai hal yang makin berasa mistis.

      Jika dulu pernah seorang teman bertanya, mengapa orang Dayak dalam cerita-cerita yang berkembang di Jawa sering dikatakan memiliki ekor? Sebenarnya simpel sih. Dulu pernah ada pakain tradisional Dayak yang terbuat dari kulit binatang. Nah, bagian ekor binatang tersebut tetap dibiarkan sehingga jika pakaian tersebut dipakai, akan tampak bahwa pemakainya lah yang memiliki ekor.

      Penilaian menyeramkan dan misterius itu makin diamini oleh beberapa konflik antar etnis berskala luas yang mencuat di Kalimantan Barat (1999) dan Kalimantan Tengah (2001).

      Lalu, dalam hal ini jelas media dan obrolan-dari-mulut-ke-mulut memegang peranan penting. Media yang jika membahas orang Dayak namun hanya mengangkat tema yang berbau tribal, tentu dapat menyesatkan pendapat banyak orang.

      Berbagai dugaan negatif seperti itu berkembang karena minimnya pengetahuan mengenai sukubangsa Dayak tersebut. Yang muncul ke permukaan hanyalah pengetahuan populer mengenai kayau, perang, dan lain-lain. Sedangkan dokumentasi dan catatan etnografi mengenai Dayak sendiri masih bisa dibilang sedikit. Kalaupun cukup banyak, dokumentasi tersebut masih bertumpuk di rak-rak perpustakaan yang jarang didatangi orang banyak.

      Lalu ada alasan kedua, yang mana ketika warga suatu kebudayaan merasa kebudayan yang ia miliki lebih tinggi dari kebudayaan yang lain, maka ia akan cenderung melihat kebudayaan yang lain tersebut ya seperti terbelakangan. Misalnya saja ketika pelaut Eropa masuk ke Nusantara dulu. Mereka melihat orang-orang Nusantara (Jawa, Bugis, Maluku) itu seperti orang-orang barbar dan terbelakangan.

      Padahal jika kita mengambil paradigma strukturalisme budaya (maaf sedikit menyinggung teori), dinyatakan bahwa tiap manusia mempunyai kemampuan yang sama untuk berpikir dan mengambangkan kebudayaannya masing-masing. Hanya saja bentuk kebudayaan yan dikembangkan tersebut berbeda-beda. Artinya bahwa tidak ada kebudayaan yang terbelakang dan kebudayaan yang lebih maju dari kebudayaan lainnya. Tiap kebudayaan menyesuaikan dengan warga kebudayaan tersebut dan juga lingkungan. Itu menurut paradigma strukturalisme dalam antropologi.

      Kalau menurut standarisasi Dinas Sosial di Indonesia, sebagian sukubangsa Dayak yang masih menetap di pedalaman, pegunungan, dan hulu-hulu sungai masih dikategorikan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Menurut mereka hal tersebut dikarenakan tempat yang terisolir dan sulit dijangkau, belum tersedianya jalan darat yang memadai, rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (menurut standar lapangan kerja secara umum di Indonesia), kemiskinan, dan kondisi kekayaan seni-budaya masih belum mendapat perhatian dari pemerintah.

      Itu sependek yang saya tahu. :)

    9. Rudy Gunawan

      Sependek yang saya tahu/ingat, itu ada kaitannya dengan kebudayaan Timur Tengah (atau Islam ya, semoga tidak tertukar) yang masuk ke Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal)?

      Maaf saya kurang tahu lebih banyak lagi. :)

    10. Rudy Gunawan

      Maaf sekali. Sudah saya jelaskan tadi di Twitter bahwa saya baru mencoba FormSpring ini belum ada beberapa jam yang lalu. Waktu itu asal mencoba setiap servis yang ada. Nah, keika saya amati banyak sekali lemparan ke Twitter, dan ada user yang juga menanyakan hal itu,maka saya matikan lemparan tersebut. Coba dilihat, lemparan itu hanya ada pada awal-awal saja kan?

      Di Facebook, masih ada beberapa lemparan yang saya anggap "penting" agar yang lain bisa terlibat bersama. Namun tidak semua jawaban akan saya lemparkan begitu saja ke Facebook. Hanya yang benar-benar penting dan dapat kita diskusikan bersama saja. Sedangkan untuk Twiter, karena ada keterbatasan karakter, maka sudah saya matikan sejak tadi sebelum adanya masukan ini.

      Dalam hal ini, walaupun cuma beberapa lemparan di awal saja, saya tetap salah karena telahmerusak timeline user. Maafkan jika berkenan.

      Terimakasih atas tegurannya.

    11. Rudy Gunawan

      Kebudayaan itu berproses, tentu. Instan juga sebuah proses. Hanya saja instan itu bagaikan mengambil jalan pintas atau bahkan memampatkan proses menjadi sangat singkat.

      Izinkan saya mendongeng terlebih dahulu.

      Pada zaman dahulu (zaman berburu dan mengumpulkan makanan, zaman bercocok tanam, dan zaman lainnya hingga sebelum revolusi industri) pengembangan kebudayan dan teknologi hanya untuk pemenuhan kebutuhan dan kekurangan fisik manusia saja. JIka digambarkan dengan grafik, kurva pengembangan kebudayaan/teknologi masih seimbang dengan kurva kemampuan fisik manusia. Misalnya manusia membuat kapak genggam sebagai alat bantu berburu dan mengolah makanan.

      Setelah revolusi industri hingga era sekarang ini, perlahan-lahan kurva pengembangan kebudayaan/teknologi mulai meningkat jauh meninggalkan kurva kemampuan fisik manusia. Artinya pengembangan kebudayaan/teknologi tersebut bukan lagi sekadar untuk memenuhi kekurangan fisik.

      Jika determinan kebudayaan dipengaruhi oleh kebutuhan dan lingkungan, maka perubahan kebudayaan yang makin meninggalkan kurva kemampuan fisik manusia dipengaruhi oleh rasa tidak puas.

      Sikap instan mempunyai pengaruh terhadap kebudayaan antara lain dengan faktor manusia. Keduanya saling mempengaruhi. Pengembangan kebudayaan/teknologi yang semakin pesat akan menimbulkan sikap instan bagi manusia, dan sikap instan itu pula yang membuat manusia semakin ingin mengembangkan kebudayaan/teknologi yang makin instan dan praktis.

      Dampak buruknya adalah pada fisik manusia. Sudah menonton film Wall-E atau Surogates? Di sana digambarkan manusia-manusia masa depan yang sangat lemah secara fisik dan sangat bergantung pada teknologi. Ini sangat berbeda dengan manusia purba dan homo sapiens masa lalu yang umumnya memiliki tulang yang kuat dan besar karena kebudayaannya sangat bergantung pasa kemampuan fisik.

    12. Rudy Gunawan

      Photoshop itu dipakai untuk membuat mockup PSD, alias sketsa yang dapat langsung diolah menjadi HTML dan CSS. Bisa juga Photoshop dipakai untuk membuat gambar latar.

      Untuk coding sendiri jelas memakai text editor. Bisa Notepad, bisa Notepad++, atau text editor lain.

    13. Rudy Gunawan

      Maksudnya skin generator?

      Tergantung platform forum/board apa dulu yang digunakan. Apa itu IPB (IF, Zetaboard), vBuletin, phpBB, atau yang lain.

      Setahuku IF punya generator resmi:
      - http://www.ifskinzone.net/main.php?p=SSG
      - http://www.ifskinzone.net/main.php?p=PSG

      Zetaboard dan vBulltin sekarang masih belum punya layout/skin generator.

    14. Rudy Gunawan

      Salah satu karakter kebudayaan adalah kebudayaan itu berpola (culture is patterned). Pola yang dianggap sekarang adalah pola Barat atau pola Amerika.

      Ada beberapa faktor yang menyebabkannya seperti itu, misalnya media dan distribusi produk. Amerika Serikat saat ini bisa dikatakan sebagai salah satu negara paling berpengaruh (dalam artian kekuasaan) di dunia. Dengan kekuasaan tersebut tentu ada kemampuan untuk mengolah. Hasil yang diolah ini tentu berupa produk dan media. Orang-orang yang terbiasa mengkonsumsi produk dan media Barat, apalagi lingkungan sekitarnya yang menunjang, kemungkinan akan mencoba mengadopsi hal-hal tersebut pada dirinya karena ia mengira adalah hal yang wajar jika seperti orang kebanyakan. Inilah yang namanya konformitas sosial di mana merasa nyaman ketika banyak orang melakukan hal yang serupa.

      Singkat saja. Malas panjang-panjang. Lagipula ngasal kok itu mah, hwahahaa...

      *malas pakeb teori-teori macam McDonalisasi atau lain-lain*

    15. Rudy Gunawan

      Pertama-tama, selamat berasumsi. :D

      Ada dua hal yang kucatat. Pertama itu "multikultural" dan "sudah dapat akur antar-etnis".

      Jawaban singkatku terkait dengan dua faktor tersebut adalah tribalisme jelas dapat memengaruhi stabilitas. Masyarakat yang multikultur hanya dapat hidup rukun antar-etnis, sehingga ketika fenomena etnosentris (atau di sini tribalisme) mencuat maka kerukunan yang ada itu akan mudah digoyang. Meskipun tribalisme itu hanya muncul misalnya di satu daerah terkait (diasumsikan karena faktor otonomi daerah), tapi hal tersebut dapat memicu daerah lain untuk melakukan hal yang serupa sehingga tiap-tiap daerah akan terkotak-kotak. Di sini saya merujuk pada fenomena otonomi syariah di Aceh yang mengakibatkan terjadi gejolak serupa di Papua.

      Berbeda jika di negara yang tak hanya multikultural, tapi juga plural. Tribalisme akan sulit terjadi karena antar-etnis atau kelompok masyarakat dapat memahami satu sama lain. Bahasa kerennya sekarang, local wisdom (kearifan lokal) dapat diwujudkan tanpa harus grasak-grusuk ke ranah politik formal.

    16. Rudy Gunawan
      gunawanrudy responded to chiw 28 Dec 09

      Kalau sudah mengerti mengenai HTML dan CSS, mudah dan bisa cepat. Dengan catatan membiasakan diri mengoprek dengan memakai wordpress theme framework. Kalau belajar tanpa framework juga bisa, tapi biasanya agak sedikit sukar dan memakan waktu yang lebar lama, meskipun kelamaan bakal nggak gampang bergantung pada framework.

      Ada banyak framework yang disediakan gratis dan siap oprek. Saya sendiri merekomendasikan Thematic http://themeshaper.com/thematic/ atau WP Framework http://wpframework.com/

      Semoga membantu. Maaf saya juga newbie nih.

    17. Rudy Gunawan

      Lagi-lagi "baik" dan "buruk" bergantung pada kebudayaan setempat. Yang ideal adalah yang "baik" menurut kebudayaan terkait. :P

      Nah, di jawaban sebelumnya, "baik" dan "buruk" yang saya maksudkan adalah penilaian absolut dan general. Sayangnya itu nggak ada. :D

      *melestarikan retorika*

    18. Rudy Gunawan

      Menurut saya bentuk pemerintahan yang ideal adalah...


      ...pemerintahan yang sesuai dengan pola kebudayaan masyarakat negara terkait. Maksud saya misalnya, di negara dengan sedikit atau hana ada satu kelompok etnis, etnokrasi adalah pilihan yang ideal. Atau di negara dengan hampir kesemua penduduknya memeluk agama tertentu dan tingkat religiusitasnya tinggi (entah bagaimana mengukurnya), tentu idealnya teokrasi bisa dilirik. Dan bagi negara dengan kemajemukan yang tinggi (multikultural atau bahkan plural), memaksakan misalnya monarki tentu sulit, dan ideal bisa jadi demokrasi.

      Singkat saja, saya melihatnya dari paradigma kebudayaan setempat. Jika sudah pas dengan kebudayaan yang ada, resistensi dari rakyat tentu akan semakin sedikit.


      Dan oh ya, kita di sini berbicara mengenai "ideal", bukan "baik" atau "buruk" kan? :D

    19. Rudy Gunawan

      Secara sederhananya...

      Istilah "ras" (di sini saya membahas ras manusia, bukan hewan lainnya) merujuk pada variasi manusia berdasarkan faktor genetik. Ini terlihat jelas dari tampilan fisik. Sejak dahulu selalu ada perdebatan mengenai penentuan klasifikasi ras ini, misalnya mula-mula Carolus Linnaeus mengklasifikasikan ras manusia ke dalam ras kulit putih (Eropa), ras kulit hitam (Afrika), ras kulit kuning (Asia Timur), dan ras kulit merah (Indian Amerika). Hingg akhirnya klasifikasi yang masih dipakai sekarang yaitu: mongolid (asiatic mongolid, malayan mongolid, american mongolid alias indian/eskimo amerika), negrid (african negrid, negrito, melanesian), kaukasid (nordic, alpine, mediterannean, indic), austromelanesid (aborigin, dravida, papua, dll), dan ras-ras khusus (bushman, ainu, khoisan, veddoid, dll).

      Sedangkan istilah "etnis" (atau sukubangsa) merujuk kelompok sosial yang berasal dari garis keturunan yang mempunyai kebudayaan atau adat istiadat yang sama. Bahasa biasanya menjadi salah satu faktor utama dalam mengklasifikasikan etnis. Misalnya etnis Jawa, etnis Sunda, etnis Batak, etnis Tionghoa.

      Ada hal yang cukup lucu ketika [anggap saja, mohon maaf jika tidak berkenan] orang Jawa menghardik orang Tionghoa dengan kata "dasar Cina!" atau "dasar Tionghoa!". Kebanyakan orang akan menyebut tindakan itu sebagai "rasis", padahal orang Jawa dan orang Tionghoa masih dalam satu ras yang sama, yaitu mongolid (hanya berbeda sub-ras, di mana orang Jawa adalah malayan mongolid dan orang Tionghoa yang asiatic mongolid).

      Karena itu istilah "rasis" dan "etnosentris" menjadi kabur pengertiannya.

    20. Rudy Gunawan

      Sependek yang aku tahu, secara de jure sudah nggak ada.

      Aku nggak berbicara banyak soal de facto. Kita coba lihat saja dari hal-hal kecil di lingkungan kita, nggak usah muluk-muluk membicarakan diskriminasi secara luas.

      Misalnya saja yang paling mudah, bagaimana pelayanan di toko atau rumah makan? Adakah perbedaan yang terlihat? Jika ada, bagaimanakah pola perbedaan itu? Berdasarkan pakaian yang rapi kah? Etnis kah? Atau ada yang lain?

      Apakah ada rasa-rasa etnosentris atau rasis? Oh ya, harap bedakan keduanya, karena ras dan etnis itu berbeda.

Rudy Gunawan

Jogyakarta, ID

gunawanrudy.com/

Rudy Gunawan’s Bio

Speak No Evil. Ask No Evil.

Who Rudy Gunawan responded to

  • PerikeciL
  • dian ayu aryani
See all »

Who is following Rudy Gunawan

  • hanistyta
  • Joe Satrianto
  • Ajeng Miranti
  • Rahmad Hidayat
  • unclegoop
  • Dennis Suryana
See all »