Malu bertanya, jalan-jalan (karena sesat) hehehhe

RSS Feed
    1. Fredrick D Purba
      bangjeki responded to syadza 2 Sep 10

      LDR itu bisa berhasil apa ngga, jawabannya tergantung. Banyak hal yang akan menentukannya. kemungkinannya adalah 50-50 (menurutku). Artikel ttg LDR sedang disusun oleh temanku dan akan segera di publish. Sabar ya....

    2. Fredrick D Purba

      aku pernah mendeskripsikan kriteria cewe yang aku inginkan saat menjawab pertanyaan ttg "Butuh dan ingin dalam memilih pasangan" coba cek di http://www.getarcinta.com/2010/08/qa-tentang-memilih-pasangan-atau-pacar/
      Apakah kamu bisa menjadi salah satunya? see it for your self and let me know...

    3. Fredrick D Purba

      Baik baik saja kok. Ini siapa ya anonymous soalnya...

    4. Fredrick D Purba
      bangjeki responded to ishma23 29 Aug 10

      cara paling gampang adalah bikin jadwal setiap hari 1-2 jam harus duduk di depan laptop dan baca buku atau ngetik skripsi atau bikin apapun yang terkait skripsi. Pokoknya terjadwal SETIAP HARI. jadi paksaan aja awalnya, lama kelaman akan terbiasa. tips ini aku dapat dari bu sawitri. aku pernah melakukannya, awalnya beneran cuma sejam. besoknya naik lagi waktunya. akhirnya berjam-jam, dan dalam 2 minggu aku berhasil ngetik 100 halaman untuk bab 2 tesis. cobain deh...

    5. Fredrick D Purba

      Oh, semoga galaunya cepat hilang ya dan kembali seperti biasa...

    6. Fredrick D Purba

      Bisa ditanya ke 108 nama toko yang jual harddisk. Terus telepon deh ke nomer itu dan tanyain. Saya psikolog, bukan jualan harddisk.. Maaf ya..

    7. Fredrick D Purba

      Wah, maaf ya lama jawabnya sampai kamu nanya lebih dari satu kali.
      Jawabanku adalah: Mungkin itu memang gaya pacaran mereka. Ada banyak kemungkinan, seperti:
      1. Saat ditanya mereka pura-pura tidak tahu, tapi sebenarnay tahu keberadaan satu sama lain. Saat di depan umum, mereka memang sepakat untuk tidak terlihat berdua, walau semua orang tahu kalau mereka memang pasangan. Tapi di belakang itu, siapa yang tahu kan ya apa yang mereka lakukan?? Bukan dalam artian negatif, tapi kemesraan mereka di belakang layar.
      2. Mungkin saja pada dasarnya keudanya punya kepribadian yang serupa, yaitu cuek. Mereka bisa bersatu karena keduanya memang tidak ingin terlalu teriokat dan harus tahu secara detil tentang pasangannya. I know you love me, and you know I love you, that’s what important most for them. Mungkin saja kan…
      3. Mungkin saja memang sudah menuju tahap mau putus, sehingga terlihat mulai kurang peduli satu sama lain. Mungkin juga sih kan?

      Maaf kalau jawabannya semua mungkin, ya memang begitulah adanya. Informasinya tidak cukup untuk menjawabnya dengan pasti. Moga membantumu..

    8. Fredrick D Purba
    9. Fredrick D Purba

      Depresi dalam arti yang paling umum (awam) adalah kemurungan dan keputusa-asaan, merasa diri tak berdaya. Kalau untuk pengertian ini, seseorang yang sakit, apalagi cukup lama tentu bisa mengalaminya. Ia merasa lelah untuk berobat dan melawan penyakitnya, dan merasa semangatnya memudar dan kemudian banyak berkeluh kesah. Ia kemudian memilih untuk banyak diam dan mengurung diri di kamar saja, tidak terlihat canda tawanya, atau bahkan seutas senyum simpul sedikitpun.
      Cara menghadapinya daalah dengan menemani dan memberikan support. Tunjukkan padanya kalau kita tetap mengasihi dan menyayangi dia, walaupun ia dalam keadaan sakit. Ceritakan apa yang terjadi dalam hidupmu, yang positif, dan katakan padanya kalau ia akan segera mengalaminya kembali dalam hidupnya. Ajak ia menonton film yang lucu dan menyenangkan, baca buku-buku inspiratif, bersosialisasi lewat situs pertemanan sosial. Intinya adalah menyibukkannya dan menunjukkan bahwa dunia tidak hancur walaupun ia sakit, dan banyak orang yang tetap mencintainya.
      Maukah dan bersediakah kamu menunjukkan sinar matahari yang tetap ada dalam kegelapan penyakitnya?

    10. Fredrick D Purba
    11. Fredrick D Purba

      Hai cewe yang empatinya tinggi. Kalau kamu suka pada seorang cowo, dan merasa sedih saat ia sedih, bukankah itu sesuatu yang wajar? Itu menunjukkan bahwa ada perhatian dan intensi kamu padanya. Apakah itu masuk ke suka atau sayang, aku piker tidak terlalu signifikan perbedaannya. Ketika kamu menyukai seseorang, kamu tidak mau dia mengalami hal-hal yang menyakitkan atau menyedihkan. Itu realitas perasaan manusia, dan sulit dihindari. Sebagian diri dan dunianya kita tarik dan ambil menjadi diri dan dunia kita.
      Kalau kemudian alasan sedihnya adalah suatu keuntungan bagimu, tidak masalah. Sedih saat ia sedih, wajar sekali dan menunjukkan kamu benar-benar menyukainya. Saat ada kesempatan, majulah dan tunjukkan padanya kalau kamu menyukainya, tentu saja dengan cara-cara yang elegan dan halus (karena kamu cewe). Selamat berjuang mendapatkannya. Ingat, peduli pada perasaan orang yang disayangi adalah salah satu ekspresi cinta.

    12. Fredrick D Purba

      Wah, pertanyaan yang bagus nih.
      Aku itu penggemarnya Paulo Coelho yang mengarang banyak buku bagus seperti The Alchemist, Brida, dll. Tapi dia memang lebih ke spiritualisme. Selain itu aku penggemar Mitch Albom dengan serentetan bukunya yang dimulai dari Tuesdays With Morrie, Five People You Meet in Heaven, One More Day, dst. Ini buku memang tidak murni psikologi, tapi prinsip dasar kemanusiaan dan pembelajaran tentang hidup sangat bagus.
      Kalau buku filsafat, aku suka buku-bukunya Jostein Gaarder, pengarang Sophie’s World dan beebrapa judul buku lainnya.
      Ada beberapa novel dari Irvin Yalom, seorang psikoterapis eksistensial yang sangat terkenal, dengan judul-judul seperti Love’s Executioner, Momma and the Meaning of Life, juga When Nietzsche Wept A Novel of Obsession (kalo ga salah ada dvd-nya)
      Aku juga baca buku-buku Daniel Goleman dengan Emotional Intelligence, Social Intelligence, dan Ecological Intelligence.
      Coba baca 7 Habits dari Stephen Covey. Aku sih baca yang 7 Habits for Highly Effective Family, karena minatku kan ke keluarga.
      Oya, kalau kamu mau beli dvd, carilah serial yang judulnya In Treatment. Ini berkisah tentang seorang psikoterapis yang membantu klien-kliennya. Sangat menghibur dan inspirasional buat calon-calon psikolog.
      Kalau nanti ada lagi, aku update lagi ya…

    13. Fredrick D Purba

      Pertanyaan ini sebaiknya diajukan pada lembaga yang menyediakan analisa sidik jari. Mereka mengklaim bahwa memang dapat diketahui bakat dan potensi anak dari sidik jarinya, dan sudah dibuktikan lewat riset. Kalau aku pribadi, aku kurang percaya. Sangat nature sekali pendekatannya, bahwa dari lahir individu sudah ditentukan akan jadi apa. Aku kurang setuju dengan
      pendekatan itu. Tapi, tiap orang boleh punya pendapat masing-masing kan ya??
      Mau coba analisa sidik jari?

    14. Fredrick D Purba
      bangjeki responded to syadza 5 Aug 10

      Aku tidak dapat menjawabnya, kalau kamu memang ingin tahu apakah itu usia atau kepribadian. Tentu saja kita perlu tes psikologi yang cukup lengkap. Kalau umurnya, aku juga tidak tahu umurnya. Tapi tampaknya belum masuk pada masa lansia kan ya? Jadi umur minim pengaruhnya. Kepribadian?? Tentu saja aku lebih tidak tahu lagi, wong bertemu saja belum pernah. Karena kamu yang bertanya padaku, mari kita fokus pada apa yang bisa kamu lakukan terkait itu.
      Yang pertama, aku hendak menyoroti soal (kemungkinan) perbedaan persepsi. Mungkin buatmu itu hal kecil, tapi buatnya? Kamu tidak dapat memastikan benarkah itu hal kecil.
      Yang kedua, dias ayahmu, kamu anaknya. Dalam posisi subordinat seperti itu (dia adalah figure otoritas bagimu), seringkali yang dapat kita lakukan adalah menerima dan memaklumi saja. Secara emosional kita merasa kesal, pasti. Secara kognitif kita berpikir “Kok gitu aja dibesar-besarkan sih?”, tentu saja. Tapi apa pilihanmu sebagai anak? Marah balik padanya? Tentu tidak, karena kamu masih dibawah pemeliharaan dan tanggungjawabnya. Balik badan dan ambil langkah seribu? Agak sulit karena kamu masih akan bertemu tiap hari. Masa menghindar setiap hari? Pilihan lain adalah jadi moderat dan memaklumi saja. Saat ia mengomel, diamkan saja, jawab seperlunya, dan katakan pada dirimu “Ya sudahlah.” Jangan diambil hati apa yang keluar dari mulutnya, karena itu bukanlah apa yang benar-benar ia maksudkan. Aku menuliskan ini karena ayahku juga seperti itu, dan aku mengalami fase seperti kamu saat ini. Akhirnya, berusaha memaklumi menjadi senjata andalanmu. He’s your old man, right? He loves you more than anything. But he’s still human being, full of flaws. All the flaws that he had wont change the fact that he loves you.

    15. Fredrick D Purba

      Pacaran setelah menikah memang lazim disampaikan di Indonesia, apalagi memang dengan mayoritas penduduk kita yang muslim, dimana pacaran sebenarnya sesuatu yang tidak disarankan.
      Pacaran dalam pengertian barat (disebut dating) dan yang lazim digunakan juag di Indonesia adalah masa perkenalan, pendekatan, dan eksplorasi kecocokan pasangan. Ini adalah tahapan pra nikah, dimana tujuan akhirnya adalah menentukan “Apakah dia orang yang layak saya nikahi dan menghabiskan hidup saya selamanya?”
      Kalau seseorang dijodohkan, baik karena alasan agama atau adat istiadat, maka kesempatan mengenal luar dalam pasangan akan sangat sedikit. Karenanya, masa pengenalan dilakukan setelah menikah.
      Dan kamu tahu, bahwa bahkan pasangan yang sudah lama pacaran sebelum menikah pun akan mengalami masa penyesuaian pernikahan, dimana mereka menyesuaikan diri dengan peran suami-istri dan keluarga. Pada pasnagan yang dijodohkan, masa penyesuaian peran tadi ditambahkan dengan tugas pengenalan akan diri pasangan.
      Apakah pacaran dulu atau setelah menikah yang paling baik, aku tidak punya jawaban yang pasti. Semua tergantung kesiapan pasangan dan bantuan orang-orang sekeliling mereka, selain berkat Tuhan juga.
      Kalau kamu, memilih yang mana?

    16. Fredrick D Purba

      Kerjaan S1 tentu menjanjikan, apalagi di perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina, Chevron, Telkomsel, dll. Tapitanyakan eprtanyaan-pertanyaan berikut pada dirimu:
      1. Apakah kamu benar berminat menjadi psikolog dan melakukan pekerjaan-pekerjaan psikolog? Jika jawabannya TIDAK, berhentilah sesudah S1 dan fokus mencari karir yang mantap sebagai sarjana psikologi. Jiak jawabanmu YA, lanjutkan pada pertanyaan kedua.
      2. Apakah orangtuamu mampu membiayai sampai kamu lulus jadi M.Psi? (sekitar Rp 45 juta untuk SPP, belum biaya hidup dan lain-lain ya, selama estimasi 5 semester, kalau di Psikologi Unpad) Kalau jawabannya TIDAK, bekerjalah dan menabunglah, walau memang akan butuh waktu yang cukup lama. Cara mudahnya: cari suami/istri yang kaya yang bisa membiayai kamu buat magister. Cara lain: masuklah PsiAD atau PsiAU dan nanti akan dibeasiswain mereka. Kalau jawabannya YA, segeralah daftar magister, tentunya setelah lulus S1 Psikologi. Ga perlu gengsi atau males dibiayai orangtua untuk magister. Banyak kok yang melakukannya (termasuk aku). Orangtua kamu aja ga akan gengsi/males ngebiayain kamu magister kalau memang ada uangnya, percayalah. Karenanya, bicarakan pada orangtuamu

    17. Fredrick D Purba

      Pertanyaan yang bagus dan jelas bukan SARA..
      Kenjapa ya kamu jadi kesal kira-kira? Apakah karena kamu khawatir pacarmu akan menyukai cewe lain yang (mirip/memang) Chinese? Atau karena kamu kurang yakin apakah dia benar-benar menyayangimu, karena dia sukanay yang Chinese, dan kamu bukan?
      Temukanlah jawabannya langsung, tentu saja dari pacarmu. Tanyakan padanya:
      1. Apakah dia menyayangimu sebagai pacar dan serius ingin bersamamu untuk masa depan?
      2. Apakah dia masih menyimpan keinginan memiliki pacar yang Chinese?
      3. Apakah saat kalau ada cewe lain yang sesuai kriterianya (Chinese) menyukainya saat ini atau beberapa waktu ke depan, ia akan meninggalkanmu?
      Jangan lupa, sebelum kamu menanyakan ini, CERITAKAN PADANYA KEKHAWATIRANMU. Kenapa harus diceritakan? Karena bukankah itu inti pacaran, saling berbagi suka dan duka, kesenangan dan kekhawatiran menuju saling mengerti dan memahami?
      Selamat berjuang menghapus kekhawatiranmu. Ingat, keterbukaan adalah salah satu resep cinta.

    18. Fredrick D Purba

      Pertanyaan yang bagus dan menarik sekali. Seringkali ketika kita menyukai seseorang, kita menjadikan “rasa suka” kita menajdi alasan untuk memperbolehkan diri kita “menyakiti” diri kita sendiri atau bahkan menjadi “berbeda” dari diri kita sendiri. Contohnya: Saya suka dia, tapi saya tidak tahu apa perasannya pada saya. Saya tahu dia sukanya cewe/cowo yang suka main music, sementara saya sukanya olahraga. Ya udah deh, saya paksain buat les music intensif agar ia suka pada saya. Ini contoh “menjadi bukan saya yang sebenarnya”
      Contoh lain adalah seperti yang terjadi padamu. “Saya suka kamu, tapi saya belum/tidak menyampaikannya padamu” (ini asumsiku). Karena berpegang pada kalimat “Cewe itu mudah luluh kalau dikasi perhatian dan ditemani dalam kesedihan/kesakitannya. Dia bisa dari tidak suka menjadi suka pada cowo yang memberikannay perhatian dan kasih sayang” maka kamu menjadi teman dekatnya dan mendengarkan ia bercerita tentang rasa sayangnya pada COWO LAIN dan betapa ia sedih karena cowo lain itu tidak menyambut perasaannya. Diam-diam kamu berpikir “Ngapain sih lo suka sama dia? Jelas-jelas ada gw yang menyanyangi lo sepenuh hati” tapi berhenti di situ.
      Atau kalau kamu cewe yang menyukai seorang cowo yang menyukai cewe lain, kamu menganggap suatu saat cowo ini akan ngeh kalau gw adalah orang yang tepat untuk mendampinginya, karena gw selalu ada di sisinya saat ia sedih dan gembira.
      Kamu mencoba menjadi sahabatnya, tapi bukanlah sahabat kalau ada agenda yang ingin dicapai dibelakangnya. Suka ya suka, sahabat ya sahabat. Jangan dicampur-adukkan keduanya.

      Apa yang kamu lakukan tidak salah dan wajar untuk dilakukan. Karena bukankah “berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” lazim terjadi dalam proses mencintai seperti ini? Sayangnya, saat ini dia happy (karena punya tempat cerita) kamu happy (luarnya) tapi sad (dalamnya).
      Bagaimana agar bisa keduanya happy??
      Jawabanku mungkin kurang menyenangkan atau sulit untuk dilakukan, tapi inilah menurutku:
      1. Sampaikan padanya kalau kamu suka padanya selama ini dan menginginkan ia menjadi pasanganmu. Hanya saja kamu tahu persis kalau dia sebenarnya suka pada cowo/cewe lain.
      2. Sampaikan padanya kalau kamu merasa kurang nyaman mendengarkannya bercerita tentang kecengannya. Kamu mendengarkannya selama ini karena kamu sayang padanya, tapi ternyata tetap menyakitkan.
      3. Tanya padanya apakah mungkin kita masih berteman? Kalau ya, maukah dia tidak menceritakan ttg kecengannya padamu sehingga topic yang dibahas saat bersama adalah topic-topik lain. Kalau tidak, ya kamu harus menghormati keinginannya.
      4. Carilah cewe/cowo lain untuk disukai atau minimal dikecengin olehmu. Itu akan membantumu menghilangkan perasaan sayang pada si subjek yang sering curhat tadi, sehingga kalian bisa lebih nyaman curhat-curhatan.
      Kalau kamu kurang bersedia mengikuti saranku, aku menyarankan LANJUTKAN saja apa yang sudah kamu lakukan. Kenapa? Karena kamu akan sampai pada salah satu kemungkinan ini:
      - Dia jatuh cinta padamu karena selalu ada untuknya (aku tak tahu kapan ini akan terjadi, tapi MUNGKIN)
      - Kamu merasa lelah dan secara tidak sadar menjauh darinya (aku juga tak tahu kapan ini akan terjadi, tapi MUNGKIN SAJA)

      Selamat memilih, suka atau sahabat. Choose one, and forget the other one.

    19. Fredrick D Purba

      Aku pernah menjawab pertanyaan ini sebelumnya. Beginilah jawabanku:
      “Sebenarnya, kalo yang bertanya padanya adalah pacar atau cewe yang ia sukai, pertanyaan apapun terasa menyenangkan. Kalau hanya “sudah makan belum?” sih akan dianggap sebagai bentuk perhatian yang disukai oleh cowo. Jenis pertanyaan yang tidak bisa diterima oleh cowo adalah pertanyaan yang sifatnya interogatif atau memaksa. Jadi kalau pertanyaan “sudah makan belum” ditanyakan berulangkali, saat makan pagi, siang, malam, bahkan supper, itu akan dianggap pertanyaan yang interogatif. Apalagi kalau pertanyaan itu dilanjutkan dengan “Makan apa? Dengan siapa? Di mana?” ia akan merasa diinterogasi dan merasa tidak nyaman. Jenis pertanyaan buat cowo yang akan dianggap menyenangkan adalah sama dengan yang akan dianggap menyenangkan oleh cewe. Pertanyaan yang sifatnya menanyakan kabar boleh koki, tapi tidak interogatif. Pertanyaan yang lebih menyenangkan buat cowo adalah pertanyaan yang sifatnya meminta opininya tentang sesuatu, apalagi pada bidang2 yang memang ia kuasai. Bidang-bidang yang cowo banget seperti teknologi, otomotif, politik, dan olahraga. Misalnya “Aku mau beli hape, apa ya yang bagus?” atau “kalo menurutmu, gimana sebaiknya Inter menahan laju Messi?” karenanya, kamu juga perlu update dengan topic-topik teknologi, otomotif, politik, dan olahraga.”
      Bagi cewe, perhatian adalah yang utama. Makanya kamu, sebagai cewe, pasti senang kalo ditanya “Udah makan belum? Lagi apa? Habis ini mau ngapain? Apa kabar mamamu? Dll”
      Bagi cowo, perhatian detil itu adalah sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan, karena terkesan menginterogasi. Yang ia butuhkan adalah perasaan dihargai/dihormati. Mintalah saran padanya tentan gsesuatu, dan jadikan ia tempat berdiskusi. Updatelah dirimu dengan topic/topic terbaru di dunia saat ini.

    20. Fredrick D Purba

      nah, ini lagi mau diupdate. maap ya...suka susah nulis kalau banyak banget yang lain yang harus dikerjain. Sekarang sudah menurun load pekerjaan ,aku akan mulai lagi menulis. tunggu ya jawaban-jawabanku..

Fredrick D Purba

Bandung, Indonesia

bangjeki.wordpress.com/

friends
smiles
1 all-time

Fredrick D Purba’s Bio

Psychologist, Motivator, Love expert

Who Fredrick D Purba responded to

  • Syadza Andini
  • novita indah putri
  • yemima
  • Mirza Arfina
  • Githa Jayanti
  • welana
  • MonicaTongginaSilitonga
  • Lamia Irhamny
  • ashri aliefah muthmainnah
See all »

Who is following Fredrick D Purba

  • liztya saputri
  • Hari Prasetyo
  • Hanifah Al-Zulfan Khair
  • L
  • vistapuri
  • joannabrahmana
  • Syadza Andini
See all »